Menu Tutup

Cerpen: Kisah Dua Belahan Jiwa

Oleh: YD. Teguh, S.Pd.,Gr

Naya dan Anaya menenun hari di bawah naungan takdir yang sama. Ayah mereka telah berpulang tujuh purnama setahun yang lalu kembali ke muara abadi setelah kalah oleh ketetapan raga. Sejak saat itu, sang ibu berdiri tunggal: menjadi bumi tempat mereka berpijak sekaligus langit yang menaungi. Saban hari, keringat sang ibu diperah di antara deru mesin pabrik, menjahit asa agar kedua buah hatinya tetap dapat menatap masa depan.
Keduanya kini menginjak usia remaja di jenjang kelas 11 SMA negeri. Keterbatasan ruang dan harta tak menghalangi mereka untuk mengeja dunia, meski sekolah itu dipilih bukan karena kemewahannya, melainkan karena kesederhanaan yang sanggup mereka jangkau.
Pagi itu, mentari belum sepenuhnya tegak ketika Naya berdiri di depan kamar mandi, menunggu kembarannya.
“Anaya, sudah selesai?” sapa Naya lembut.
“Sudah, Kak Naya. Tolong bukakan pintunya,” sahut Anaya dari balik kayu yang tertutup.
Ketika pintu terkuak, Anaya melangkah perlahan bersama dua tongkat kayu yang mendekap erat jemarinya. Takdir melahirkannya dalam sunyi ketidakberdayaan fisik kelumpuhan raga yang membingkai langkahnya sejak lahir.
“Terima kasih, Kak Naya,” tutur Anaya dengan senyum setipis embun.
“Selalu, Anaya. Mari kita sambut hari,” balas Naya hangat sembari mengambil alih beban tas di pundak kembarannya.
Di ruang tengah, Rayna sang ibu telah merajut kasih lewat kotak bekal sederhana. Sebelum melepas kedua putrinya, Rayna berpesan bahwa ia harus menukar malamnya dengan jam lembur di pabrik. Naya menggenggam janji untuk menjjaga sang adik, sebuah ikrar tersirat yang selalu ia genggam erat.
Mereka pun melangkah menembus lorong waktu menuju sekolah yang tak jauh dari kediaman. Di bangunan itu, dinding kelas memisahkan raga mereka. Naya, sang kakak, tumbuh bagai angin timur: berani, nyaring, dan periang. Sementara Anaya menjelma bagai danau tenang: teduh, menyimpan kedalaman berpikir, meski memilih sunyi di tengah keramaian.
Saat jam istirahat bergema, Naya selalu menjadi gemuruh yang menghampiri ketenangan Anaya. Di atas meja kelas, mereka bertukar peran. Anaya, dengan kecerdasan budinya yang tajam, menjadi penuntun bagi Naya yang kerap tersesat di antara belantara angka dan rumus fisika. Jemari Anaya mengurai kebingungan Naya, menuntun ketidaktelitian sang kakak menuju jawaban yang benar. Dalam keterbatasan fisik Anaya, terdapat jiwa yang menuntun; dalam kelengkapan raga Naya, terdapat raga yang melindungi.

Namun, dunia kerap kali bersikap keras pada yang hening. Usai bel pulang membahana, Naya menemukan Anaya terkepung di koridor luar. Tiga jemari jahil sedang mempermainkan tongkat penopang Anaya, merenggut satu-satunya tumpuan fisiknya dan menjadikannya bahan tertawaan.
Keberanian Naya membakar sunyi. Tanpa ragu, ia menerjang, mendaratkan teguran fisik yang memaksa para pengganggu itu surut dan berlari ketakutan. Di hadapan keheningan murid-murid lain yang hanya menjadi penonton, Naya menegaskan kedudukannya sebagai perisai bagi sang adik.
“Lain kali, jangan biarkan mereka merenggut bahagiamu, Anaya. Lawan, atau gunakan tongkatmu untuk menegakkan martabatmu,” bisik Naya gusar namun penuh kasih, sembari merapikan jemari adiknya.
Anaya hanya tersenyum terkekeuh, mengerti bahwa ketegasan kakaknya adalah bentuk cinta yang paling murni.
Naya dan Anaya adalah dua bagian dari satu jiwa yang terbelah. Yang satu menjadi kaki bagi yang lumpuh, yang lain menjadi pelita bagi yang tersesat. Kehidupan tak pernah menuntut raga yang sempurna untuk menciptakan harmoni; ia hanya membutuhkan kasih yang saling menggenapi. Sebab di hadapan takdir, keretakan tak diciptakan untuk meruntuhkan, melainkan untuk memberi jalan bagi cahaya saling menyembuhkan.

Kupang, 12 Januari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *