
Aku punya sebuah cerita tentang jatuh-bangun bangsa ini menuju kemerdekaan, bersama tuan ku yang terkenal berkarisma. Aku terlahir dari keluarga yang teramat sederhana, dari kesederhanaan itu Tuhan telah mempersiapkan diri ku untuk sesuatu yang besar. Semua mengalir apa adanya sampai-sampai aku pun tidak menyadari – lebih tepatnya tidak mau tahu.
O iya aku hampir lupa memperkenalkan diri. Panggil saja aku Penjaga Kunci, berasal dari desa terpencil di Selatan Nusa Tenggara Timur, Sabu-Raijua. Sejak berusia 13 tahun hidupku sudah penuh dengan perjuangan dan pengembaraan. Aku hidup dari “suapan” saudari sepupu. Ia mengajak ku menyeberang ke pulau tetangga, karena tak rela hati membiarkan aku sebatang karang. Sebagai ucapan terima kasih, saban hari, aku membantunya menjual pisang goreng berkeliling kampung.
Namun sejarah telah melupakan ku bersama raga ini saat tak lagi menapaki bumi pertiwi, terbang tinggi menembus langit ketujuh. Pengorbanan dan jasa-jasa ku tinggal kenangan bagi anak cucu ku yang merasa bangga. Aku tidak pernah merasa menyesal atau pun mengutuki nasib yang malang ini. Tugas ku telah usia bersama tidur ku yang panjang. Tidak pula ku tuntut sebuah pengakuan, sebuah ucapan terima kasih atau tuntutan kesejahteraan di hari tua. Aku hanya meminta jangan kau jual bangsa ini dengan kepintaran, jangan kau gadai rakyatmu dengan keserakahan kekuasaan, dan jangan kau tamak akan harta negara ini, kemudian mengorbankan saudaramu – tolong, jangan kau lupa itu!
Waktu itu tahun 1934 awal pertemuan ku dengan sebuah keluarga yang diasingkan Belanda ke tempat kami. Pagi itu dengan niat begitu besar ku menyambangi kediaman mereka.
“Pi….sang….go….reng!!! Pi….sang….go….reng!!! teriak ku dengan lantang menjajakan dagangan.
Sengaja ku lantangkan suara ini supaya menjadi pusat perhatian.
“Ibu aku mau kue itu! Panggil si kecil sambil berlari sebelum disahuti.
Kue….Kue…!!! teriak anak kecil itu menyelah ku.
Mendengar panggilan itu diriku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati arah suara yang ku ketahui berasal dari halaman rumah orang buangan. Lalu muncul seorang ibu dengan paras cantik membeli kue ku. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara yang meminta ku untuk bekerja di rumah mereka dengan imbalan gaji. Selebihnya hanya kenangan.
“Anak, maukah kamu bekerja di rumah kami?”
“Nanti akan saya gaji setiap hari setelah selesai kerja”, lanjut perempuan itu takut ia menolak.
Singkat cerita, aku mulai bekerja di rumah orang buangan yang katanya berasal dari Jawa. Waktu itu tahun 1938, cobaan itu datang menerpa baterai rumah tangga tuan dan nyonya. Awalnya tuan ku harus kembali di asingkan oleh Belanda ke Bengkulu. Aku pun ikut bersama keluarga ini. Segala upaya ia lakukan biar aku bisa ikut. Pagi-pagi sekali ia sudah pergi bertemu keluarga ku untuk meminta izin. Di hadapan mereka ia berjanji untuk menjaga dan melindungi diri ku.
“Boleh adik ku ikut bersama mu ke tanah rantau, tetapi jangan sekali-sekali kau telantarkan dia,” ujar Gadi Walu, saudari ku.
“Jika dia mati aku pun akan mati bersama dia,” janji tuan ku kala itu.
*****
Pagi baru saja berganti malam, burung-burung tak henti-henti berkicau menyambut sang fajar. Awan-awan gelap bergerak perlahan mendekat. Sepertinya akan hujan hari ini. Ku lihat Tuan ku lagi bersantai di teras depan dengan pikiran jauh menerawang. Entah apa yang ia pikirkan. Wajahnya semendung awan yang mendekat, mungkin tidur malam tuan ku yang tak seindah malam-malam sebelumnya. Sedari malam ia sudah gelisah hingga aku diminta tidur menjaganya. Yang pasti Tuan ku pagi ini tidak sedang baik-baik saja.
“Bapak, sarapan sudah siap!” ucap gadis itu.
Seketika awan mendung di wajah tuan ku sirna, berganti dengan senyuman kebahagiaan. Tuan ku sedang jatuh pada kenyamanan wanita lain. Ini kah yang dinamakan penghianatan? Aku masih terlalu kecil untuk paham. Biarkan menjadi urusan orang dewasa.
Suasana meja makan pagi itu seketika menjadi medan pergolakan perasaan saat tuan ku menyatakan ingin menikahi gadis yang kini tinggal bersama mereka.
“Aku ingin menikahi gadis itu. Jangan kau risau akan status mu, engkau tetaplah menjadi yang pertama,” ungkap tuan sambil menatap istrinya.
Ia hanya diam – tenang, terus makan hingga suapan terakhir. Berdiri dan kembali ke kamarnya. Tuan ku bergegas mengikuti – menutup pintu – dan semua berakhir.
Tuan dan Nyonya akhirnya berpisah. Perjuangan mereka tak sebanding dengan perpisahan itu. Pengorbanan nyonya terlampau banyak untuk tuan ku, ia yang tidak menerima kenyataan. Ia merindu pada apa yang tidak mampu nyonya ku berikan. Rindu yang mampu terobati pada pelukan wanita lain. Nyonya adalah wanita paling ikhlas, hatinya terluka tetapi tidak pernah mendendam.
Aku pun terseret arus, harus memilih akan mengikuti siapa. Aku layaknya harta yang diperebutkan tuan dan nyonya. Dengan berat hati aku memilih tuan. Nyonya pun tidak marah dengan keputusan ini, malahan dihadiahi radio tua miliknya. Pengingat untuk diri ku yang tidak setia pada nyonya. Kami berpisah – sedih – tidak mudah untuk memilih, hanya saling mendoakan dan terus menyanyangi.
*****
Bunyi ledakan terdengar dimana-mana, tak jarang mesin itu memuntahkan amunisi. Melukai dan membunuh menjadi pemandangan biasa. Teriakan minta tolong terdengar dimana-mana. Hanya mendengar – tak ada yang bisa ku perbuat, terus berdoa dan berlindung.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Jantungku seketika berhenti berdenyut, was-was, mungkin ini saatnya. Tuan ku dengan kewaspadaan penuh berjalan menuju pintu dan membukanya dengan perasaan ragu-ragu.
“Tuan ikut dengan kami sekarang!” pintah prajurit itu dengan tegas.
“Ada apa?” tanya tuan ku.
“Cepat tuan ku, tak ada waktu untuk menjelaskan!” Hardik prajurit itu lagi.
Sejam kemudian kami sudah berada di sebuah pelabuhan. Tampak banyak penumpang di sana. Panik, berdesak-desakan, lari wara wiri, itulah gambar situasi di sana. Kemudian kami diarahkan menuju sebuah kapal yang sedari tadi diam memaku, namun sarat dikerumuni manusia.
“Silakan tuan dan keluarga tuan naik. Tersisa 4 penumpang,” jelas prajurit lain mempersilakan kami naik ke kapal tersebut.
“Kami berlima, tidak mungkin ada yang pergi dan sisanya tertinggal,” jawab tuan ku.
“Mr. Soekarno, nyawa mu lebih penting dari siapa pun,” balas prajurit lainnya lagi.
Aku hanya terpaku menatap perdebatan singkat tersebut. Sudah pasti aku yang ditinggal pergi. Kenyataan dengan cepat mencekik ku hingga membuat mata ku berkunang-kunang. Seketika aku hampir terjatuh, menghantam kerasnya realitas. Dengan berlinang air mata ku memohon.
“aku mau ikut tuan ku,” rengek ku.
Tuan ku hanya menatap ku dengan iba. Tak rela ia meninggalkan ku mengais nasib di tanah rantau.
“Tidak ada yang boleh pergi jika ada keluarga ku yang harus tinggal,” bentak tuan ku sambil merampas barang bawaan kami..
Seketika suasana menjadi panik dan genting dikarena tiba-tiba muncul sebuah pesawat tempur yang terbang rendah di atas kami, siap menghancurkan apa saja yang ada dibawahnya. Kapal yang tadinya harus ditumpangi tuan ku dan kemenakannya pun mulai bertolak meninggalkan kami yang berlari menyelamatkan diri. Mungkin kira-kira 10 kilo dari bibir pantai tiba-tiba dari atas kepala kami terbang pesawat pengebom terbang menuju kapal tersebut. Seketika kapal tersebut hancur lebur, terbakar habis oleh jilatan api. Tersisa kenangan berbalut bayangan jika tuan dan aku berada disana, maka habislah kami. Tetapi kami selamat, terlebih tuan ku selamat! (LFL/GD)