
By. Gusto Dias
(Guru IPS SMP Katolik Giovanni Kupang)
Kunci dari peradaban adalah Pendidikan dan Pancasila. Pendidikan lahir dari kebutuhan dan cinta manusia pada validasi dan eksistensi di mata sesamanya, dan Pancasila lahir dan berakar pada kehidupan, dari berbagai cerita-cerita masa lampau yang tak lekang oleh waktu, pada adat-istiadat yang terpatri dalam sanubari tetua-tetua, pada mimpi dan harapan masa lalu yang perlahan-lahan terabaikan. Pendidikan tanpa Pancasila adalah ilmu tanpa arah, sedangkan Pancasila tanpa pendidikan hanyalah angan-angan. Keduanya adalah fondasi kemajuan bangsa, di mana pendidikan adalah prosesnya, dan nilai-nilai Pancasila menjadi kompas moral, karakter, serta tujuan akhirnya.
Pendidikan merupakan pekerjaan mulia untuk membangun Civilization of Love yang berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila. Peradaban masa kini berfondasi pada kemampuan sumber daya manusia yang lahir dari rahim pendidikan. Dari sebuah proses belajar, manusia membentuk iklim berpikir yang mengarah kepada tindakan pemecahkan masalah dalam masyarakat, tetapi tidak jarang pengetahuan menjadi alasan hati dan moral manusia terabaikan dalam mengambil keputusan. Maka tidak jarang banyak kebijakan yang katanya prorakyat alih-alih malah menciptakan kegaduhan dan mirisnya lagi, menghilangkan segala hak hidup orang-orang banyak atas nama pembangunan bangsa. Sehingga menjadi sangat penting jika nilai-nilai Pancasila tidak sekedar menjadi dogma hafalan anak-anak di bangku sekolah tetapi harus mampu memberikan arah dan pedoman dalam setiap proses kehidupan.
Tantangan terbesar penerapan nilai-nilai Pancasila adalah rumitnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dari hafalan dalam bentuk teks kepada kehidupan yang lebih praksis. Bagian tersulitnya adalah menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai kebiasaan yang membudaya dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran Pancasila di tengah perkembangan globalisasi yang pesat, telah mengubah pola hidup kolektif menjadi pola hidup individualisme, perlahan telah menggerus semangat gotong royong, polarisasi yang memecah persaudaraan, korupsi yang melukai keadilan, intoleransi yang meretakkan kebhinekaan, serta perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang kadang mempercepat penyebaran kebencian dan disinformasi.
Pertanyaan sekarang adalah apa kita masih bisa bertahan menjaga jati diri bangsa Indonesia? Ataukah kita mencari jalan lain demi kepentingan kita masing-masing? Jawabannya ada pada pendidikan dan Pancasila.
Pancasila sebagai nilai-nilai yang mengakar dalam kehidupan masyarakat, mau mengingatkan sekaligus mendorong kita, bahwa dalam kehidupan ini, seberapa jauh kemajuan dan kecanggihan yang tercapai, hidup harus tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Melalui sila pertama, pendidikan menumbuhkan iman, ketakwaan, dan kesadaran bahwa seluruh proses belajar adalah partisipasi dalam karya Tuhan untuk memuliakan-Nya melalui pelayanan kepada sesama. Sila kedua menegaskan penghormatan terhadap martabat manusia, sehingga setiap peserta didik dibentuk menjadi pribadi yang beradab, berbela rasa, dan menjunjung tinggi hak-hal asasi setiap orang. Sila ketiga mengarahkan pendidikan untuk menumbuhkan persatuan dalam keberagaman, membangun persaudaraan lintas agama, budaya, dan suku sebagai kekuatan bangsa. Sila keempat mendidik generasi agar memiliki kebijaksanaan, semangat dialog, dan tanggung jawab demokratis dalam mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Sila kelima meneguhkan komitmen untuk mewujudkan keadilan sosial, solidaritas, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan karya peradaban cinta yang membentuk manusia Indonesia sebagai pembelajar sepanjang hayat, pekerja yang berintegritas, warga bumi yang merawat rumah bersama, serta pribadi yang memuliakan Tuhan dengan memulihkan martabat manusia dan seluruh ciptaan sebagai sesama saudara, (Vox:2026).
Di tengah gencarnya pemerintah dalam meningkatkan Literasi dan Numerasi di dunia pendidikan, harus dilihat dan dipahami sebagai sebuah kebijakan untuk menciptakan peradaban cinta (Civilization of Love). Sebuah harapan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang berdampak pada sumber daya manusia dan menghasilkan peserta didik yang mencintai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Pendidikan harus mampu menghasilkan output terdidik yang melek literasi dan numerasi sekaligus berjiwa Pancasila. Literasi dan numerasi dalam perspektif Pancasila, dilihat sebagai dua pasang kekasih yang terus membangun sebuah peradaban cinta. Layaknya cinta sejati yang tidak sekedar tumbuh dari kata-kata dan kehangatan saja, tetapi juga dari sebuah pikiran yang jernih dan murni.
Aktivitas literasi bukan sekedar mendesain sebuah program membaca buku dengan durasi waktu tertentu, namun lebih daripada itu, sebuah pengalaman belajar yang mengajarkan kepada kita bagaimana membaca kisah-kisah hidup dengan rasa empati, memahami penderitaan sesama, mencintai keberagaman dalam setiap perbedaan, mampu memaknai setiap pengalaman, dan mengkritisi setiap peristiwa dalam hidup sebagai sumber nilai-nilai kehidupan untuk disyukuri, sementara itu aktivitas numerasi menjadikan seseorang mampu membaca realitas dengan jernih, mengukur ketidakadilan dengan bijaksana, dan merancang solusi yang berpihak pada kebaikan bersama.
Jika dilihat dari kacamata Pancasila, literasi dan numerasi adalah perpaduan akal dan hati, yang saling melengkapi. Maka itu, akal tidak mesti mendominasi hati, karena hanya akan menciptakan pemimpin yang bekerja tanpa belas kasihan, ataupun sebaliknya, hati jangan sampai mendominasi akal, karena hanya akan menciptakan manusia-manusia yang mau menyenangkan sesama lalu lupa memperjuangkan hak-haknya sendiri. Literasi dan numerasi yang berjiwa Pancasila harus mampu membentu karakter manusia yang mampu berpikir secara kritis tanpa lupa untuk berbelaskasihan, jiwa yang tidak sekedar gila sekolah tetapi juga punya mental tidak tahu malu dalam berinovasi disamping terus mengasah nurani, dan jiwa yang mau maju bersama tanpa meninggalkan orang lain di belakang. Kehidupan akan bergerak lebih maju, tanpa kehilangan hati untuk mencintai dan memuliakan pencipta, sesama manusia, dan alam.
Melalui literasi dan numerasi yang berjiwa Pancasila, generasi muda belajar bahwa ilmu bukanlah alat untuk menguasai sesama, melainkan sarana untuk melayani; bahwa pengetahuan bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memuliakan kehidupan. Dari ruang-ruang kelas yang menumbuhkan kecintaan pada kebenaran, keadilan, dan persaudaraan akan lahir manusia-manusia yang mampu menulis masa depan bangsa dengan kata-kata yang mempersatukan dan menghitung kemajuan dengan ukuran martabat manusia. Dengan demikian, literasi dan numerasi Pancasila menjadi benih-benih kasih yang bertumbuh menjadi pohon rindang Peradaban Cinta, tempat setiap orang menemukan rumah dalam keadilan, damai dalam keberagaman, dan harapan dalam kebersamaan.
Menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip sebuah frasa kalimat yang pernah diucapkan oleh Aristoteles seorang filsuf Yunani Kuno, bahwa ”Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali”. Pendidikan yang berhasil mengasah pikiran dan hati akan melahirkan Civilization of Love.
#fiatlux #smpkgiovannikupang
#ntt #nttbangkit #nttsejahtera #dinaspkkotakupang #smpkgiovannikupang #yaswarikak