
oleh: Gusto Dias (Guru SMP Katolik Giovanni Kupang, mengasuh Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial)
LiputanFiatLux.com. Saya teringat kembali sebuah ungkapan yang dilontarkan Aristoteles, “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali”, sebuah ungkapan bijak yang menggambarkan sekaligus menampar wajah pendidikan di Indonesia. Bukan sekedar deratan huruf, tetapi sebuah metofora yang mengguncang, ibarat sebuah cermin retak memantulkan wajah pendidikan kita yang masih berjuang antara harapan dan kenyataan. Sebuah sistem pendidikan yang terlihat sempurna, namun menyisahkan lubang-lubang tak tersentuh diberbagai aspek.
Pendidikan terus berproses sebagai rutinitas, kadang membosankan, kadang menggembirakan, hingga kita sepakat, semuanya bermuara pada selembar kertas ijazah. Gaya dan makna belajar pun berubah. Kelas-kelas bukan lagi menjadi taman tumbuh dan berkembangnya akal sehat yang menggembirakan, namun lebih kepada aktifitas menghafal kering tanpa sedikit pun menyentuh maknanya. Kita harus mulai mengakui bahwa kita perlahan mulai meninggalkan roh dari pendidikan dan terfokus pada menciptakan manusia-manusia pekerja tanpa jiwa (bekerja tanpa kesadaran, perasaan, dan kepribadian). Ketika anak-anak belajar sekedar memenuhi tujuan tanpa benar-benar memahami, sebuah sistem baru telah terbentuk, hingga ketika masa depan berjalan terlalu cepat tanpa diimbangi sistem yang mendukungnya, pembelajaran menjadi sekedar rutinitas tanpa makna.
Data dari PISA (Program for International Student Assessment) yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2018 dan 2022 menjadi bukti betapa tertinggalnya kita dibandingkan negara-negara maju lainnya. Tercatat, pada tahun 2018 berdasarkan data PISA menempatkan Indonesia di papan bawah (peringkat 74 dari 79 negara peserta). Data PISA di tahun 2022 kembali dirilis, menguak fakta baru, Indonesia merangsek naik 5-6 posisi dibandingkan di tahun 2018 (peringkat 70 dari 81 peserta). Hal positif ini tidak dibarengi oleh nilai skor Literasi, Numerasi, dan Sains untuk Indonesia yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2018. Fakta menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain dalam kemampuan literasi, numerasi, dan sains.
Pertanyaan sekarang apa yang harus kita perbuat? Membiarkan sistem ini berjalan terus hingga kehancuran benar-benar menunjukkan wujud aslinya? Mulai mengejar segala ketertinggalan? Saya percaya, kita pun sepakat untuk segera berbenah.

Dibalik bayang-bayang ketertinggalan kita ini, selalu ada kesempatan untuk berbenah dan kembali pada jalan yang benar. Selalu ada kesempatan untuk memasuki sebuah fase kelahiran kembali (rebirth of education). Mungkin kita tidak memulainya dengan sarana dan prasarana yang mewah dulu, atau kurikulum yang senantiasa terus berganti seperti selera makan kita, namun kita memulainya dari keberanian memulihkan kembali makna belajar yang sesungguhnya.
Pendidikan harus kembali pada rohnya, memanusiakan manusia, membebaskan nalar, dan menumbuhkan empati. Belajar harus mampu membentuk manusia menjadi manusiawi, menciptakan generasi yang berani kritis, tidak sekedar gila pendidikan, tetapi selalu berjiwa tamak akan hal-hal baru, dan pada akhirnya menjadi manusia yang memiliki empati untuk bekerja bagi bangsa dengan jiwa tidak tahu malu dalam menciptakan karya-karya besar secara inovatif. Maka menjadi sebuah keharusan, peran guru sebagai cahaya peradaban harus dihidupkan kembali, peran kepala sekolah sebagai ekosistem pembelajaran semakin digalakkan, dan sekolah sebagai ruang hidup yang menyatu dengan realitas sosial dan ekologis di sekitarnya.
Intervensi sosial yang humanis juga menjadi sebuah pendekatan yang perlu ditingkatkan, seperti gizi anak, kesehatan mental, hingga budaya literasi keluarga, menjadi tandem sempurna bagi segala perubahan dalam pendidikan seperti halnya kurikulum yang senantiasa terus berganti terkhususnya Kurikulum Merdeka dengan pendekatan Deep Learning.
Saya percaya, jika dimulai dari lingkungan keluarga dan diperkuat di lingkungan sekolah, pendidikan Indonesia akan mengalami transformasi yang menggila, dari belajar yang sekedar mengejar angka berganti mencari kebermaknaan untuk membangun jiwa, tidak hanya mengejar peringkat, tetapi memupuk dan membentuk martabat sebagai manusia berintegritas. Kita pun menjadi optimis, di tengah ketertinggalan pendidikan kita yang tampak kelam, lahirlah generasi yang bijaksana, tangguh dan manusiawi.

Berdasarkan data PISA di atas, memberikan sebuah gambaran yang pahit tentang pendidikan kita, terkhususnya dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Artinya, rata-rata murid Indonesa masih berjuang pada kemampuan dasar, sementara murid di negara lain sudah sampai tahap berpikir kritis dan pemecahan masalah kompleks.
Tiga hal ini tidak terlepas dari tiga persoalan penting, yaitu (1) kualitas proses mengajar dan belajar yang belum merata, proses pembelajaran hanya seputaran menghafal daripada memahami materi sehingga orientasi belajar sebatas kepada ketercapaian hasil secara angka bukan pemahaman yang mendalam tentang materi, (2) kesenjangan akses dan fasilitas pendidikan yang mencolok di daerah perkotaan dan pedesaan, (3) kurikulum yang sering mengalami perubahan tanpa terlebih dahulu adanya kajian ilmiah secara menyeluruh, dan dampak yang ditimbulkan adalah gagal paham dan kebingungan, sehingga berdampak juga pada mutu pendidikan.
Menjadi sebuah keharusan bagi guru dalam penguatan perannya sebagai tenaga pendidikan bukan sekedar pengajar materi. Guru harus mampu memainkan peranannya sebagai fasilitator bukan sekedar penyampai materi, sehingga memacu dan memotivasi murid untuk kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Guru juga perlu dilakukan evaluasi kinerja guna mengukur ketercapaian seorang guru dalam proses pembelajaran, bukan hanya pada kelengkapan administrasi pembelajaran.
Peran kepala Sekolah juga tidak kalah penting dalam membentuk dan keberhasilan mutu pendidikan. Peran kepala sekolah harus mampu menciptakan budaya sekolah yang kolaboratif, berbasis data, dan berorientasi pada hasil belajar. Sikap dalam memimpin pun diharapkan, seorang kepala sekolah bisa transparansi, akuntabel, dan partisipasi dengan melibatkan guru, orang tua dan komunitas dalam pengambilan keputusan.
Akhir kata, Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, meninggalkan warisan pemikiran mendalam tentang pendidikan yang memerdekakan, berkarakter, dan berpusat pada anak. Semboyan terkenalnya, “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani,” menegaskan peran pendidik sebagai teladan, motivator, dan pendorong. Sebuah gagasan yang berhasil membawa Indonesia menuju kemerdekaan, kiranya juga menjadi wejangan bagi kita dalam mengisi dan memperbaiki kualitas, mutu, dan tujuan pendidikan di masa yang akan datang. Selamat Hari Pendidikan Nasional yang ke-118 tahun. Sudah berusia 1 abad tetapi rasanya usia pendidikan kita masih belia.
#hardiknas118 #ntt #nttbangkit #nttsejahtera #dinaspkkotakupang #smpkgiovannikupang #yaswarikak
Refleksi yang luar biasa. Saya sepakat. Saatnya untuk kita kembali pada pendidikan yang sesungguhnya, membentuk manusia, bukan mencetak ijazah. Salam Hardiknas untuk keluarga besar Fiat Lux.. Salam dari SPEKACIPTO
Terima kasih Romo. Selamat HARDIKNAS untuk keluarga besar SPEKACIPTO.
Benar sekali guru. Saya sangat setuju jika ruang belajar paling pertama adalah keluarga. Jikaa Keluarga, Guru dan Kepala sekolah berkolaborasi baik, saya percaya akan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia khususnya sekolah kitaa masing_masing 🙏
Mari kita mulai berbenah dari diri kita terlebih dahulu. Berani berproses dengan tekun, hasilnya pasti juga baik.
Mantap Pak Gusto…salah satunya sekolah juga harus berintegrasi dengan orang tua murid agar selalu sejalan didikan di sekolah dan di rumah. Jangan sampai berkebalikan yg akhirnya mengakibatkan intervensi orang tua juga mempengaruhi mental seorang guru.
Terima kasih ibu guru, sepakat sekali, seperti ada sekat yang membatasi realita antara proses d sekolah yang belum sepenuhnya tercapai atau d teruskan (diulang) di luar lingkungan sekolah, seperti di rumah murid-murid