
oleh: Vina Fince
LiputanFiatLux.com Tiga tahun lalu, Vani dan Louis adalah rekan kerja di salah satu sekolah. Vani yang ceria dan Louis yang tenang dan sedikit pendiam seperti layaknya guci yang anggun, dengan warna ceria tetapi tetap elegan rupanya. Dua perpaduan yang saling melengkapi. Mereka sering berbagi cerita, jalan-jalan dan makan bersama.
Ada label dan pengakuan resmi di antara mereka. Namun, hanya genggaman tangan yang terlalu lama untuk disebut kebetulan. Hanya pelukan perpisahan yang terlalu erat untuk sekadar sahabat. Hari perpisahan adalah hari terakhir mereka bertemu.
“Saya mau ke Papua,” kata Louis waktu itu, matanya berbinar dengan mimpi menjadi seorang guru di sana.
“Saya tetap mengajar di sini,” jawab Vani, dengan suara yang selalu terdengar lebih tenang dari hatinya.
Louis meminta Vani untuk bertahan. Ia berani berkata, “Tunggu aku.”
Vani memenuhi permintaan Louis. Ia terus menunggu dari hari berganti bulan dan berganti waktu. Namun, pada akhirnya Vani mendapat berita bahwa Louis sudah dengan orang lain. Vani kecewa dan hanya bisa mengiklaskannya. Arti kesetian yang harus ia bayar dengan luka. Lorong-lorong waktu yang telah ia lalui dengan kesetiaan, berakhir dengan keikhlasan tanpa syarat dan doa untuk kebahagia pria yang pernah mengajarkan dia arti bertahan dalam waktu.
*****
Semilir angin pagi berhembus membawa dingin sisa-sisa malam, menyelinap pergi memberikan perih pada tulang-tulang. Fajar pagi belum lagi menyapa, namun pekat malam mulai meninggalkan peraduan. Vani meringkuk pada kasus yang lusuh itu, merasa seolah-olah dunia berhenti berputar. Ia masih menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu, hanya menunggu dan terus menunggu. Ia mengulang nama itu, pelan hampir seperti menguji rasa kata pada lidah. Dan entah kenapa, cara ia meningatnnya membuat dadanya terasa sesak.
“Dia bukan untuk-Ku!” kata-kata ini hampir seperti peringatan.
Dia hanya lewat, pergi dan tidak berharap untuk berpulang pada peluk yang merindu. Dia menggantung berat pada harapan yang terus berputar dalam angan, seolah-olah mengingatkan ku bahwa ia sedang berdiri di dunia yang bukan milik ku.
Pada dunia yang penuh perjuangan, Vani berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Namun, ua tidak ingin terlihat lemah, memaksa raganya untuk bangkit, berdiri dan pergi membasuh masa lalu yang terus mencengkramnya. Hidup harus terus berjalan, walau rasa harus mati.
*****
Hari itu, cuaca cukup cerah. Cahaya pagi masuk perlahan melalui celah jendela ruangan lantai tiga, jatuh lembut di meja kaca yang hangat tepat di tempat duduk Vani dan Dion, rekan kerjanya. Cahayanya tidak menyilaukan. Tidak memaksa. Hanya hadir tenang, seperti sesuatu yang tidak terburu-buru untuk diakui.
Ruang kecil itu masih sunyi. Namun bukan sunyi yang kosong. Ada napas yang teratur di kursi tempat duduk Vani. Teman-teman satu ruangannya belum datang. Vani kembali pada rutinitasnya. Ia tidak lagi mengingat orang itu. Tidak lagi menoleh ke arah yang pernah membuat hatinya terluka. Semuanya kembali normal. Atau setidaknya, begitu cara yang ia mencoba yakini. Namun, ada sesuatu yang tidak ikut kembali, sesuatu yang tidak terlihat, namun terus hadir – kenangan.
“Kenapa aku masih ingat?” Pertanyaan itu muncul tanpa diundang, di sela-sela aktivitas yang seharusnya sederhana. Pertanyaan itu muncul saat ia sendirian. Saat ia menatap kosong terlalu lama. Saat sepi dan sunyi tidak lagi terasa sama.
Wajah itu. Suara itu. Perhatian dan kasih sayangnya telah berubah. Perasaannya berubah. Ia Menghela napas. Harusnya ini selesai. Ia mencoba bersikap rasional. Dua dunia tidak seharusnya bertemu. Dan jika sempat bersinggungan, seharusnya hanya sementara.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya patuh.
“Kalau dia benar-benar pergi, kenapa rasanya kosong?” Vani termenung. Seolah menolak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya dan tidak ingin ia jawab. Di sisi lain Vani memilih diam. Bukan diam dalam tenang tetapi lebih pada diam untuk menyerah. Ia kembali pada ritmenya, canda tawa dan dunia yang tidak pernah meminta penjelasan. Tidak mencari. Dan yang paling penting tidak mengingatnya lagi. Setidaknya ia terus berusaha.
“Kenapa mata mu bengkak?” ucap salah satu rekannya.
Vani mengangkat bahu. “Kena debu di jalan.” Jawabnya singkat.
Namun tidak sepenuhnya meyakinkan. Karena dalam beberapa momen, ketika suara lain mereda, ada satu hal yang tetap muncul, dan orang itu. Stop!!! Vani meneriaki dirinya.
Ia menghentikan pikirannya sendiri, lebih keras, lebih tegas, tanpa kompromi. Itu bukan lagi dunia ku. Dan kali ini, Ia memegang keputusan itu lebih kuat dari sebelumnya.
Namun Vani tidak sekuat itu dalam menahan gelombang kerinduaan. Ia datang tanpa alasan yang jelas tapi sungguh menyiksa. Atau mungkin, alasan itu sudah ada sejak lama, hanya saja ia tidak ingin mengakuinya. Orang itu muncul kembali dalam pikirannya. Lebih dari sekedar kenangan dalam ingatan.
Vani kaget. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
“Kenapa saya mengingatnya?” Ia berbicara lebih pada dirinya sendiri. Ia tahu jawabannya. Namun tidak ingin mengatakannya. Ia menarik napas dalam dan menyadari bahwa pagi tidak selalu memberikan apa yang kita cari. Kosong. Sepi. Terlalu sepi. Dan justru itu yang terasa salah. Harusnya ada namun terasa seperti ruang kosong.
Kupang, 4 Mei 2026. (LFL/VF)
#fiatlux #smpkgiovannikupang
#ntt #nttbangkit #nttsejahtera #dinaspkkotakupang #smpkgiovannikupang #yaswarikak