
Oleh: David De Araujo, S. Fil.
(Guru Seni Musik SMPK Giovanni Kupang)
“Kehadiran MBG menuai pro dan kontra dalam kehidupan, tetapi di mata pendidikan, MBG dipandang sebagai cara yang paling mutu, yang secara tidak langsung dipahami sebagai kesetaraan sosial yang mumpuni… “
LiputanFiatLux.com. Pendidikan selalu menjadi medan perjuangan manusia unutk mencapai kebebasan dan kesetaraan. Dalam sejarah pemikiran pendidikan modern, Paulo Freire dikenal sebagai seorang filsuf dan tokoh yang menempatkan pendidikan sebagai alat pembebasan kaum tertindas. Di Indonesia, semangat pembaruan pendidikan juga terlibat dalam berbagai kebijakan yang diupayakan oleh Nadiem Makarim melalui konsep Merdeka Belajar. Dalam konteks sosial, Indonesia yang masih menghadapi ketimpangan ekonomi, lahirnya program MBG (Makanan Bergizi Gratis) dapat dilihat bukan hanya sebagai program bantuan sosial, tetapi juga sebagai strategi penyamarataan status sosial peserta didik agar pendidikan benar-benar menjadi ruang yang inklusif dan manusiawi.
Paulo Freire dalam bukunya pedagogy of the Oppressed mengeritik sistem pendidikan yang hanya menjadikan peserta didik sebagai “wadah kosong” yang diisi pengetahuan oleh guru. Ia menyebutnya sebagai bangking education. Menurut Freire, pendidikan semacam itu hanya mempertahankan struktur ketidakadilan sosial karena peserta didik tidak diberi ruang untuk berpikir kritis terhadap realitas hidup mereka. Pendidikan seharusnya membebaskan manusia dari penindasan ekonomi dan sosial. Artinya, dalam pemikiran Freire, orang miskin tidak boleh dipandang sebagai objek belas kasihan, melainkan harus sebagai subjek yang memiliki hak dan martabat yang sama.
Pemikiran Freire menjadi relevan ketika melihat realitas pendidikan di Indonesia. Banyak anak datang ke sekolah dengan kondisi ekonomi yang berbeda-beda. Ada yang mampu membawa bekal, tetapi juga ada yang datang dengan perut kosong dan keterbatasan kebutuhan dasar. Dalam situasi seperti ini, sekolah sering kali tanpa sadar telah menjadi tempat yang memperlihatkan status sosial secara terang-terangan. Anak-anak dari keluarga yang berkekurangan bisa saja merasa rendah diri, tersisih, bahkan kehilangan rasa percaya diri untuk berkembang. Di sinilah program MBG memiliki relevansi sosial yang sangat penting. Program makan bergizi gratis ini bukan sekadar memberi makan kepada siswa, tetapi suatu potensi untuk menciptakan rasa kesetaraan di ruang pendidikan. Ketika semua anak menerima makanan yang sama, maka secara tidak langsung, sekat-sekat sosial yang dimaksud perlahan-lahan berkurang. Anak tidak lagi merasa malu karena tidak membawa bekal, dan sekolah menjadi tempat untuk menghadirkan rasa yang lebih manusiawi. Artinya, jika dilihat dalam kacamata Freire, proses memanusiakan manusia tidak selalu hadir dalam pembelajaran akademik, tetapi juga dapat dilihat dalam relasi komunal antar sesama peserta didik dan juga guru.
Sementara itu, Nadiem Makarim melalui kebijakan Merdeka Belajar ia mencoba untuk mengubah paradigma pendidikan Indonesia agar lebih fleksibel, kreatif, dan berpusat pada peserta didik. Nadiem menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang berkembang sesuai potensi masing-masing orang. Namun, perlu diakui bahwa kebebasan belajar sulit terwujud apabila peserta didik belum terpenuhi kebutuhannya. Karena itu, MBG dapat dipandang sebagai pelengkap yang mendukung cita-cita Merdeka Belajar. Program ini menyentuh akar persoalan pendidikan yakni ketimpangan sosial ekonomi. Hal ini jika di kota tidak terlalu tampak, tetapi jika bertolak ke tempat yang lebih jauh dari kota, hal ini dapat dirasakan secara serius.
Lebih jauh lagi, MBG memiliki dampak simbolik yang kuat. Program ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk menjamin martabat setiap anak tanpa membedakan latar belakang ekonomi. Ketika seluruh peserta didik makan bersama, dalam suasana yang sama, sekolah tidak lagi ruang kompetisi status sosial, melainkan ruang solidaritas. Nilai ini sangat dekat dengan gagasan Freire tentang pendidikan yang humanis, yang membangun kesadaran kolektif dan rasa kemanusiaan. Meskipun demikian, MBG tentu tidak hanya bergantung pada distribusi makanan. Harus ada transparasi kepada masyarakat khususnya orang tua yang lebih mengerti ekonomi dan keadaan lapangan yang dialami oleh anak-anak mereka. MBG juga haru diperhatikan agar selalu tepat sasar dan tidak menjadi proyek formalitas semata dari Bapak Presiden, Prabowo Subianto.
Pada akhirnya, dari Freire hingga Makarim, terdapat benang merah yang sama: pendidikan harus menjadi sarana pembebasan dan penyerataan esensi dan eksistensi manusia. MBG dapat dipahami sebagai salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketimpangan sosial di lingkungan pendidikan Indonesia. Program ini bukan sekadar urusan makanan, tetapi tentang martabat, kesetaraan dan hak setiap anak belajar dalam kondisi yang layak. Pendidikan bukan hanya tentang “apa?”, tetapi “siapa?” yang menjadi subjek dan objek pendidikan yang sesungguhnya.
Selamat HARDINAS yang ke-118. Sekali lagi Makan Gizi Gratis (MBG), hadir untuk menjembatani sekat sosial akibat perbedaan ekonomi dalam lingkungan belajar. Pendidikan pada dasarnya memberikan kita kesetaraan tanpa memandang status seseorang. (LFL/DA)
#fiatlux #smpkgiovannikupang
#ntt #nttbangkit #nttsejahtera #dinaspkkotakupang #smpkgiovannikupang #yaswarikak
Konteks yang diambil menarik.
Terima kasih sudah membaca dan memberikan komentar